Label » Sajak

Api

Lamat-lamat api yang daritadi
kupicu, menelan ujung-ujung ranting dan daun kering.
yang awalnya sebesar mancis, kini sudah
tak akan padam walau diterpa angin malam.

Daun-daun segar di pohon hidup bergemerincing. 58 more words

Blog

Menatap Saja Tidak, Apalagi Menetap

Aku tidak sungguh-sungguh melihatmu

Menatap saja tidak

Apalagi menetap

Tapi masih saja kau berikan senyuman itu

Satu kali kau tersenyum, rasanya biasa saja

Dua kali, Senyumku tertahan… 100 more words

Perihal Nama

“lindungi daku, Ya Allah ku”

begitulah permintaan terakhir di penghujung gerbang menuju fana

sebagai mohon restu atas awal pengembaraan

lalu sebuah harapan datang padanya sehabis adzan di kumandangkan… 142 more words

Sajak

padamu


sore tadi gerimis menghampiriku, secangkir kopi menepukku, lalu semburat-semburat senja menatapku; tajam. mereka bersamaan mengajukan keberatan padaku: mereka sudah bosan kutitipi rindu. itu membuatku gundah. harus kupercayakan pada siapa lagi titipan rindu ini? 6 more words

Sajak Sajak Senja

Halus

​diantara ribuan wajah pun,

bukan perkara sulit untuk menemukan wajahmu.

Tapi kenapa aku yg bahkan tepat di depanmu tak kau lihat?

Kasat mata kah aku?

Sajak

Berkat Kopi

Bagaimana cara hidup dalam kematian?

Minumlah secangkir kopi

Panas atau dingin, dari warung tegal atau kafe-kafe mahal

Bukan soal

Setelahnya,

Letupkan isi kepalamu ke dalam sebuah puisi… 39 more words

Puisi

Kamu-ku

Sekian lama melanglang buana

Toh akhirnya kamu juga

Yang bisa buat hati penuh warna

Penyebab prasangka kemana-mana

Sudah lama menepis rasa

Toh semua tetap sama…

58 more words
Sajak